
Jawaposnews.id – PT Paramita Bangun Sarana Tbk (”PBS” atau ”Perseroan”; kode saham: PBSA) dapat melalui
tahun 2021 ini dengan baik meski dihadapkan pada tantangan dan dinamika bisnis yang cukup
bergejolak, khususnya dalam menjalani operasional bisnis di tengah wabah pandemi Covid-19.
“Pada tahun 2021 profit margin PBS meningkat signifikan dengan mencapai sebesar 30,62 persen
dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 8,63 persen” ujar Direktur dan Corporate Secretary
PBS, Vincentius Susanto dalam keterangannya di Jakarta, Jum’at (27/5/2022).
Peningkatan profit margin ini turut diimbangi dari pencapaian di sektor keuangan secara
keseluruhan. Berdasarkan Paparan Publik Tahunan 2021 PBS, Revenue yang diperoleh PBS pada
tahun 2021 adalah sebesar Rp.279,16 miliar. Revenue ini mengalami penurunan jika
dibandingkan Revenue tahun 2020 yang mencapai Rp.552,6 milliar. Sedangkan Net income tahun
2021 sebesar Rp.83,32 milliar mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang
mencapai Rp.43,15 miliar. Pada neraca keuangan, total aset PBS meningkat 10,65% dari
Rp.702,23 milliar di tahun 2020 menjadi Rp.776,99 miliar di tahun 2021.
Dari sisi proyek, pada tahun 2022 PBS mendapatkan kontrak baru yang berjumlah 582 milliar
per Q1 2022. Nilai proyek keseluruhan yang dikerjakan PBS jika ditambah dari proyek yang
didapat dari tahun sebelumnya, pada akhir tahun 2022 diharapkan dapat mencapai lebih dari
Rp.1 triliun. Jenis proyek yang PBS kerjakan antara lain pembangunan tangki, laboratorium,
refinery, glycerin, KCP, dan proyek yang berhubungan dengan sipil, mekanikal serta elektrikal.
Proyek-proyek tersebut tersebar di berbagai daerah di Indonesia, antara lain di wilayah Sumatera
(Dumai, Lampung dan Medan-Sei Mangkei), Kalimantan Selatan (Tarjun), Kalimantan Barat
(Kenari, Kapuas, Sejiram, dan Badau), Kalimantan Timur (Melak), Banten (Serang), Jawa Barat
(Marunda, Bogor dan Karawang), dan Jakarta.
Beberapa klien baru yang diperoleh diantaranya dari First Resources Group, PT Socimas,
PT. Pindo Deli Pulp and Paper Mills, PT Smartfren Telecom Tbk, dan PT Unilever Oleochemical
Indonesia.
Dalam tahun 2022 ini kami akan menyelesaikan pembangunan gedung kantor 8 lantai di
Jl Hasyim Ashari – Jakarta Pusat untuk digunakan sebagai kantor pusat PBS, dan awal tahun 2023 Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (“RUPST”) PBS yang dilaksanakan di Hotel Santika
Premiere, Jakarta, Jum’at (27/5/2022), para Pemegang Saham PBS telah menyetujui penggunaan
Saldo Laba (Retained Earnings) untuk pembagian dividen tunai sebesar Rp.70,5 miliar kepada
Pemegang Saham atau Rp.47,- per lembar saham. Langkah ini diambil PBS sebagai penghargaan
atas kepercayaan yang diberikan dari seluruh pemegang saham terhadap prospek masa depan
PBS.
Selain itu, di dalam RUPST juga telah diputuskan pemecahan nilai nominal saham (Stock Split)
dengan rasio 1:2. Aksi korporasi ini dijalankan PBS dengan tujuan untuk meningkatkan likuiditas
perdagangan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia. “Melalui stock split ini harga saham PBS
akan dapat lebih menjangkau para investor lama maupun baru khususnya para investor ritel,
sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah pemegang saham Perseroan”, ujar Vincentius. Dengan dilaksanakannya stock split, maka jumlah saham PBS yang beredar di Bursa Efek
Indonesia berubah dari semula sejumlah 1,5 miliar saham menjadi 3 miliar saham.
Vincentius menambahkan, “Kami yakin bahwa keputusan pembagian dividen dan stock split akan menjadikan PBS semakin menarik untuk para investor. Berbagai aksi korporasi ini merupakan komitmen PBS untuk mengoptimalkan setiap peluang di tengah tantangan bisnis yang masihakan dinamis kedepannya”. (Alfian)
