
pertama, Distrik Seni X Sarinah sesi kedua resmi dibuka untuk publik pada Jumat
(09/09) bertempat di Gedung Sarinah Communty Mall lantai 6, dengan mengusung
tema “Berkelanjutan!”. Melalui tema ini, Distrik Seni X Sarinah berharap dapat
memberikan respon terhadap berbagai permasalahan lingkungan, sosial, dan
ekonomi di Indonesia melalui karya-karya seni yang diekspresikan oleh para seniman
yang tergabung dalam pameran sesi kedua ini.
Sebagai pameran seni yang menjadi pusat pelestarian budaya, Distrik Seni X Sarinah
merangkul seniman lokal untuk mengeksplorasi gagasan berkelanjutan melalui sudut
pandang budaya lokal, sehingga pameran yang diselenggarakan Distrik Seni X
Sarinah tidak hanya mengusung semangat kebangkitan ekosistem seni Indonesia,
tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya yang sejalan dengan nilai-nilai
Berkelanjutan!.
Perbedaan yang paling mencolok dari pagelaran Distrik Seni X Sarinah sesi kedua
kali ini adalah, bergabungnya Dewa Budjana, Heri Dono dan Jay Subyakto sebagai
kolaborator yang akan menampilkan karya-karya unik mereka dalam merespon tema
Berkelanjutan!, melalui medium yang unik dan tentunya belum pernah ditampilkan
pada pagelaran pameran seni lain di Indonesia.
Heri Pemad, Direktur Artistik Distrik Seni
Kami membagi area pameran Distrik Seni ke dalam 4 jenis ruangan, yaitu: Ruang Dr.
Ir. Soekarno, Ruang Garda, dan Ruang Berdikari. Selain itu ada sebuah ruangan
khusus yang disediakan untuk aktivasi program publik. Setiap ruangan memiliki
karakteristiknya masing-masing yang berjangkar pada tema Berkelanjuta Ruang Dr. Ir. Soekarno akan diisi oleh seniman-seniman yang memulai
kariernya sejak periode akhir 1970-an (total berjumlah 10 seniman), salah
satunya Tisna Sanjaya yang akan menampilkan instalasi Mesin Penjernih
Seni, yang merupakan hasil dari studinya di Imah Budaya Cigondewah terkait
pengolahan air bersih di lingkungan pabrik-pabrik di Cigondewah serta
bagaimana kaitannya dengan pengembangan kebudayaan di sekitar
lingkungan tersebut. Selain itu ada pula hasil karya dari Arahmaiani yang
menelusuri jejak-jejak ritual dan kepercayaan di Tibet yang bersumber dari
Nusantara.
• Ruang Garda akan menampilkan karya Maharani Mancanagara yang
menelusuri siklus produksi barang pakai yang dikonsumsi masyarakat.
Bagaimana sumber daya di alam kemudian dimanfaatkan (atau bahkan
dieksploitasi). Karya Maharani menekankan bagaimana aktivitas
mengonsumsi produk-produk massal berkaitan erat dengan keberlanjutan
lingkungan hidup manusia.
• Ruang Berdikari akan menampilkan 21 seniman tunggal maupun kolektif yang
masing-masing memberikan respons terhadap tema Berkelanjutan!. Mulai dari
kolektif Gerilya yang mempresentasikan isu keberlanjutan personal hingga
yang bersifat spekulatif, Ari Bayuaji yang menjelajahi kembali kebudayaan
lokal, kelompok Defvto Printmaking Institute yang mengeksplorasi
keberlanjutan teknik seni cetak grafis dalam seni rupa, hingga Uji Hahan
Handoko yang memikirkan kembali pola-pola ekonomi dalam ekosistem seni
rupa Indonesia.
Selain itu, akan ada aktivitas di luar presentasi karya dalam bentuk program-program
publik. Program publik ini akan dihadirkan secara rutin setiap minggunya selama
durasi 3 bulan kedepan. Rangkaian program publik yang akan dipertunjukkan
mencakup:
• Satu bulan pertama, akan menampilkan pameran karya kolaborasi Dewa
Budjana dengan seniman-seniman ternama Indonesia yang akan diakhiri
dengan lelang karya untuk charity.
• Selain itu juga akan diselenggarakan diskusi, lokakarya, serta programprogram edukasi lainnya yang mengacu pada gagasan keberlanjutan ekosistem seni, karier kesenimanan, isu lingkungan hingga gagasan-gagasan
ekonomi berkelanjutan.
Morine Rociana, Direktur Mojisa Creative
Melalui pameran seni yang diselenggarakan, Distrik Seni X Sarinah ingin
menginspirasi masyarakat Indonesia untuk menyadari bahwa tradisi, adat istiadat,
dan budaya lokal sebenarnya sudah mengajarkan kita untuk hidup secara
Berkelanjutan. Distrik Seni X Sarinah melihat bahwa trend gaya hidup berkelanjutan
anak muda Indonesia saat ini membuka peluang untuk gerakan kembali menerapkan
nilai dan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya di kehidupan sehari-hari seperti
semangat menjaga hutan yang dilakukan oleh masyarakat adat Papua ataupun
penggunaan perabotan rumah tangga yang ramah lingkungan seperti Besek dan daun
pisang untuk membungkus makanan, hal tersebut menunjukkan secara tidak
langsung kebiasaan masyarakat lokal sudah mengajarkan untuk memanfaatkan alam
sesuai kebutuhan dan melarang adanya eksploitasi lingkungan yang berlebihan.
Farah Wardani, Penata Artistik Distrik Seni dalam sesi gelar wicara bersama
media, menjelaskan “Kami menyadari bahwa isu keberlanjutan bukan lagi hal yang
asing di masyarakat khususnya anak muda Indonesia saat ini. Munculnya kesadaran
anak muda atas berbagai permasalahan yang ada saat ini mendorong Distrik seni
untuk mengangkat Berkelanjutan! sebagai tema sesi kedua sekaligus gerakan sosial
yang mendorong anak muda untuk mengambil peran dalam mewujudkan lingkungan,
sosial, dan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Melihat antusiasme 16.000
pengunjung di sesi pertama, Distrik Seni X Sarinah optimis mengajak lebih banyak
masyarakat Indonesia untuk mendorong tercapainya tujuan pembangunan
berkelanjutan dengan menggali kembali nilai-nilai budaya lokal Indonesia. Kami
berharap bersama masyarakat dan pemerintah dapat mewujudkan ekosistem seni
rupa yang berkelanjutan di Indonesia dan mendukung tercapainya target SDGs
Indonesia tahun 2030”.
Spokesperson BRI [TBC] menjelaskan “Kami menyadari pentingnya sinergitas
bersama perusahaan BUMN untuk mendukung pemulihan industri kreatif Indonesia
pasca pandemi Covid-19. Kami berharap melalui program Contemporary Indonesia
yang merupakan hasil kolaborasi BRI dengan Sarinah dapat memberikan dampak
yang positif bagi industri kreatif tanah air, kami berkomitmen untuk terus mendukung seniman lokal dengan menyediakan ruang berekspresi dan memamerkan hasil karya
sehingga memberikan dampak positif secara ekonomi dan mendukung tercapainya
target pembangunan berkelanjutan Indonesia dimasa yang akan datang”.
Pada kesempatan yang sama, Spokesperson Pertamina [TBC], menyampaikan
“Saat ini Indonesia menjadi peringkat ketiga negara dengan Pendapatan Domestik
Bruto (PDB) dari industri kreatif tertinggi di dunia, hal tersebut menunjukkan besarnya
potensi dan peluang Indonesia untuk terus berkembang dan membangun ekosistem
seni yang berkelanjutan, kami berharap dengan terselenggaranya pameran dan pasar
seni Distrik Seni X Sarinah yang didukung oleh sinergitas BUMN mampu menjadi
wadah bagi para seniman untuk terus berkreasi dan semakin mengenalkan konsep
Berkelanjutan! kepada masyarakat”.
Dengan semangat Berkelanjutan!, Distrik Seni x Sarinah mengajak masyarakat
Indonesia untuk mewujudkan target pembangunan berkelanjutan tahun 2030 melalui
seni dan budaya yang tidak hanya dipandang dari disiplin kesenian secara spesifik,
tetapi juga beririsan dengan isu kemasyarakatan di Indonesia.
Daftar Seniman: Angki Purbandono, Arahmaiani, Ari Bayuaji, Arin Dwihartanto Sunaryo, Asmudjo Jono Irianto, Devfto Printmaking Institute dll. Dengan semangat Berkelanjutan!, Distrik Seni x Sarinah mengajak masyarakat
Indonesia untuk mewujudkan target pembangunan berkelanjutan tahun 2030 melalui
seni dan budaya yang tidak hanya dipandang dari disiplin kesenian secara spesifik,
tetapi juga beririsan dengan isu kemasyarakatan di Indonesia.(Alf)
