
dengan pengrajin dan petani di Kalimantan Tengah untuk menciptakan perekonomian desa
berkelanjutan alternatif yang selaras dengan kearifan leluhur melalui sumber daya lokal. Saat
ini, HANDEP bekerja sama dengan lebih dari 200 perajin dari desa mitra di seluruh Indonesia di
Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Bali, dan Banten.
Melalui produk rotan premium dengan desain kontemporer, HANDEP berharap dapat menarik
perhatian masyarakat luas terhadap produk-produk artisanal yang menonjolkan keahlian, kualitas tinggi dan nilai budaya menawan, serta dibuat menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan.
“Anyaman rotan Dayak adalah warisan kehidupan bagi kami, dan pelestarian hutan memiliki peranan penting dalam menjaga tradisi tersebut. Rotan banyak digunakan dalam kerajinan, furnitur, dan bahan bangunan masyarakat Dayak karena merupakan salah hasil hutan bukan kayu yang dapat tumbuh relatif cepat, dan bisa diregenerasi hanya dalam kurun waktu 4-7 tahun.

Randi Julian Miranda, selaku pendiri dan CEO HANDEP.
Sebagai pria Dayak yang memiliki latar belakang ekonomi politik, masyarakat adat dan isu
gender dalam bidang pembangunan, Randi tidak hanya melihat kerajinan rotan dari potensi
bisnis, namun juga dari dampak positif yang dapat terjadi dari pengelolaan rotan yang
berkelanjutan dan perlindungan hutan. “Di Indonesia, kita memiliki banyak peluang untuk
mengeksplorasi praktik kearifan lokal yang memungkinkan kita menjadi lebih sustainable dan ethical dalam menjalankan bisnis, khususnya di bidang kerajinan tangan. Kami harap melalui HANDEP, kami dapat memperlihatkan bagaimana UKM lokal dapat melakukan terobosan yang bahkan jarang dilakukan oleh brand internasional yang lebih besar,” tambahnya.
HANDEP juga bekerjasama dengan para desainer dan brand dengan visi serupa untuk
menciptakan perubahan positif melalui kolaborasi kreatif dalam mengeksplorasi rotan.
Beberapa kerjasama yang telah terjalin antara lain adalah dengan Alvin Tjitrowirjo, seorang
desainer kondang Indonesia yang mengusung budaya Indonesia melayui karya-karya

September 2023. Kata ‘Ndare’ berasal dari Bahasa Dayak Ngaju yang berarti ‘menganyam’.
Ada pula kolaborasi apik dengan Lingwu di bulan Oktober 2023, sebuah brand dan desainer tas dari Singapura, yang telah menghasilkan dua koleksi premium. Kolaborasi ini bukan hanya
sekedar tentang peluncuran produk saja, melainkan juga menjalin kolaborasi bersama untuk bisa mendukung anak-anak perempuan Dayak dalam menggapai mimpi mereka untuk
menempuh pendidikan yang lebih tinggi, melalui pemberian beasiswa dari hasil penjualan.
Handep mengedepankan komitmennya untuk menciptakan kerajinan rotan premium yang
mengedepankan seni anyam Dayak yang tak lekang oleh waktu. Dengan memadukan teknik
tradisional dengan desain kontemporer, karya HANDEP ingin keahlian khas masyarakat adat Dayak tampil cemerlang di pasar nasional dan global.

