Pekan Francophonie 2026 di Indonesia, cerminan keragaman budaya francophone

Jawaposnews.id 

JAKARTA, BANDUNG, YOGYAKARTA, SOLO, SURABAYA, SEMARANG, MEDAN, DENPASAR, MAKASSAR – Lebih dari seratus acara diselenggarakan di seluruh Indonesia pada tanggal 20 hingga 24 April 2026 oleh kedutaan besar negara-negara anggota, negara-negara mitra, dan negara-negara pengamat Organisation Internationale de La Francophonie (OIF) yang berkedudukan di Jakarta, sebagai bagian dari Pekan Francophonie 2026.

Hari Francophonie Internasional atau Hari Bahasa Prancis Internasional, yang diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Maret, merupakan peringatan pendirian Organisation Internationale de La Francophonie pada tahun 1970—sebuah komunitas yang terdiri dari 93 negara dan pemerintahan yang berkomitmen terhadap keragaman budaya, pendidikan, perdamaian, dan kerja sama internasional.

Di luar aspek kelembagaannya, Francophonie juga merupakan realitas yang mengilustrasikan vitalitas sebuah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh hampir 400 juta orang (setengahnya berusia di bawah 30 tahun) di lima benua. Sebagai bahasa keempat yang paling banyak digunakan di dunia dan bahasa kedua yang paling banyak dipelajari (170 juta pelajar), bahasa Prancis juga merupakan bahasa ketiga yang paling umum digunakan dalam perdagangan internasional (20% dari total perdagangan global) serta bahasa keempat yang paling banyak digunakan di internet.

Di Indonesia, komunitas berbahasa Prancis didukung oleh basis yang kuat berupa lebih dari 60.000 pelajar bahasa Prancis setiap tahunnya serta jaringan lembaga pendidikan dan kebudayaan yang aktif, termasuk program studi bahasa dan sastra Prancis di sekitar lima belas universitas terkemuka di Indonesia. Bahasa Prancis dikaitkan dengan peluang akademis, profesional, dan kebudayaan yang terus berkembang.

Diselenggarakan oleh 18 kedutaan besar negafa-negara berbahasa Prancis (Armenia, Belgia, Kamboja, Kanada, Chili, Siprus, Prancis, Mesir, Hongaria, Maroko, Meksiko, Rumania, Rwanda, Seychelles, Swiss, Tunisia, Ukraina, dan Uruguay), jaringan Institut francais d’Indonésie (IFl) dan Alliance Frangaise (AF) beserta mitra-mitranya, Pekan Francophonie di Indonesia dimulai tahun ini pada tanggal 20 April. Tanggal simbolis ini menandai 200 hari menjelang KTT Francophonie 2026, yang akan diselenggarakan di Kamboja, salah satu 4990ta pendiri Organisation Internationale de La Francophonie, menyoroti hubungan erat anta’a 9°rakan gigbal ini dan Asia Tenggara.

Lebih dari seratus kegiatan digelar di semblan kota di seluruh nusantara: Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Makassar, dan Semarang.

Francophonie sebagai Wadah Dialog Antar. budaya

Salah satu acara unggulan dalam Pekan Franegphonie 2026 adalah kunjungan dua seniman internasional asal Tunisia, penyanyi Dorsat Hamdanl dan pemain biola serta komposer Zied Zouari, yang menampilkan pertunjukan musik Mereka perjudul “Avec le Temps’ di Jakarta (20 April) Yogyakarta (22 April), dan Surabaya (24 April).

Pertunjukan ini menawarkan perjalanan musikal dan puitis yang memberikan penghormatan kepada lagu-lagu Prancis klasik, diinterpretasi ulang dengan sentuhan Arab dan Mediterania.

Dipentaskan dalam bahasa Prancis dan Arab, pertunjukan inj sepenuhnya mewujudkan semangat Francophonie sebagai ruang dialog antarbudaya.

Hari Kartini: Francophonie Berkomitmen pada Kesetaraan dan Inklusi

Edisi 2026 juga menandai tanggal penting di Indonesia, yaitu Hari Kartini (21 April), yang didedikasikan untuk tokoh ikonik emansipasi perempuan nasional, Raden Ajeng Kartini.

Berbagai acara menyoroti isu-isu kesetaraan dan inklusi, terutama melalui lokakarya penulisan “Kartini Masa Kini” di Jalma-Gramedia (Blok M) di Jakarta, serta konferensi tentang isu-isu kesehatan di IFI, bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia serta beberapa LSM mitra.

Francophonie Mendukung Pemuda dan Mobilitas

Pertemuan antara mahasiswa Indonesia dan duta besar dari negara-negara berbahasa Prancis digelar pada 23 April di Universitas Negeri Jakarta.

Pertukaran ini memberikan kesempatan unik untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan diplomatik dari beberapa negara (termasuk Prancis, Tunisia, Swiss, Rwanda, dan Chili) mengenai isu-isu yang berkaitan dengan kerja sama internasional, pendidikan, dan mobilitas akademik.

Program terbuka untuk semua orang

Selama lima hari, masyarakat dari segala usia dan |atar belakang diundang untuk menjelajahi kekayaan pudaya Francophone melalui rangkaian acara yang beragam: konser, pemutaran film, pertunjukan, pameran, pengalaman kuliner, lomba bahasa Prangig, lokakarya, dan ceramah.

Pekan Francophonie menawarkan kesempatan bagi semua orang untuk menjelajahi bahasa Prancis,

mendorong pertukaran budaya, dan mempererat ,hubungan antara Indonesia dan negara-negara berbahasa Prancis. (Alfian)

 

 

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *